Saturday, June 13, 2009

Tinggal Sertaku



Kidung Jemaat No. 329 : Tinggal Sertaku
Judul Bahasa Inggris : Abide with Me
Lirik

Dikatakan bahawa orang yang dapat menghadapi kematian secara realistik akan dapat mengharungi kehidupan ini dengan rasa berguna dan dengan penuh percaya diri. Hal tersebut menjadi kepercayaan juga bagi seorang pastor Inggeris yang kurang dikenal, Henry F Lyte, ketika beliau menulis teks untuk kidung ini pada tahun 1847, sebelum menjelang kepergiannya. Setelah itu, kidung ini menjadi kidung pilihan bagi orang-orang dimana-mana dalam masa kesedihan dan tekanan yang dalam.

Henry F. Lyte lahir di Scotland pada 1 Juni 1793. Dia bersekolah di Trinity College, Dublin, Ireland, dan menjadi anggota Gereja Anglican seumur hidupnya. Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai orang yang lemah secara fizik akan tetapi kuat dalam iman dan spiritual. Kesehatannya secara terus menerus terancam oleh asma dan tibi.

Walaupun dalam kelemahan fizikal, beliau adalah orang yang bekerja tidak kenal lelah dan membangun reputasi sebagai seorang penyair, pemuzik dan pendeta. Dia selalu mengatakan ungkapan ini: “adalah lebih baik menjadi lelah dan letih daripada habis tak berguna ” (rust out). Dimanapun melayani, beliau sangat dicintai dan dikagumi oleh jemaatnya.

Selama 23 tahun hidupnya, dia melayani di daerah gereja pinggiran yang miskin, di antara komuniti nelayan di dataran rendah Brixham, Devonshire. Pada tahun-tahun inilah kesehatannya makin memburuk secara drastik dan terpaksa mempertimbangkan tempat yang lebih panas di Itali. Pada khotbah terakhir 4 September 1847 dengan orang miskin pinggiran yang dilayaninya, dia terkesot-kesot untuk dapat berdiri di podium dan berbicara seperti orang yang sekarat. Pada perjalanan ke Roma, Itali, beliau akhirnya meninggal di Nice, Perancis dan dimakamkan disana pada 20 November 1847.

Lyte dipercayai menuliskan lirik dari kidung ini beserta muziknya tidak lama setelah hari minggu terakhirnya di Gereja Brixham. Kidung ini jarang dipakai di England sampai ketika pertama kali diterbitkan dalam buku “Lyte’s Remain” pada 1850. Ketika diterbitkan di Amerika oleh Henry Ward pada tahun 1855, kidung ini ditandai dengan kalimat: “kidung ini ditujukan untuk dibaca, bukan untuk dinyanyikan”.

Ketika kemudian Willian Henry Monk membaca lirik kidung ini, karena tergerak hatinya beliau kemudian menggubah muziknya yakni Eventide, untuk lirik tersebut, yang kononnya diciptakan dalam setengah jam. Muzik ini terinspirasi oleh keindahan dan kemegahan matahari terbenam walaupun beliau belum pernah mengalami kesedihan yang dalam. Itulah muzik yang kita dengar hingga kini. William Monk adalah juga pengarah muzik dan pemain organ di King’s College, London.

Henry Lyte menulis kidung ini berdasarkan penampakan Yesus kepada dua murid dalam perjalanan menuju Emmaus dalam Injil Lukas . Dalam Luk 24:29 tertulis: Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Diadaptasi daripada cerita kidung blog HKBP Serpong

Sunday, June 07, 2009

The Monks Did It

Chris Armstrong wrote

Surely evangelicals who are sampling these medieval wares would benefit by moving beyond a piecemeal, �consumer� approach to medieval Christianity into a more systematic, in-depth study. Beneath the surface of now-trendy medieval practices, and amidst that era's wrong turnings and corruptions, lies a rich vein of spiritual, intellectual, and practical resources. I can think of at least nine facets of medieval faith and life that we can stand to learn from today:

  1. their willingness to engage in spiritual disciplines
  2. their theologically grounded devotional and even "mystical" practices,
  3. their high valuation of tradition handed down in texts,
  4. their passionate search for theological knowledge (fides quaerens intellectum--"faith seeking understanding"),
  5. their moral seriousness, expressed for example in the lists of "deadly sins" and "cardinal virtues,"
  6. their adaptation of classical learning to Christian theology (which paved the way for the birth of modern science and continues to provide a model for Christ-culture engagement today),
  7. their deep affection for the doctrines of creation and incarnation, issuing (for example) in many profoundly spiritual treasures of Western art and literature,
  8. their high valuation on eternity over temporal life, and the "art of dying well" (ars moriendi) that developed from this commitment, and
  9. their insistence on works of charity (fides caritate formata--"faith formed by love").

Saturday, June 06, 2009

Vivaldi Gloria

"Cum Sancto Spiritu" in Gloria by Antonio Vivaldi